Selasa, 01 Desember 2020

AKSI NYATA MODUL 1.1 FILOSOFI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA

PEMBIASAAN MEMBACA ALQURAN UNTUK MENUMBUHKAN NILAI KARAKTER MELALUI
“AKSI KELAPA”
(Kreativitas, elaborasi, literasi, aktif, patriot, dan agama)

Oleh 
Syarifuddin, SP.,S.Pd.,M.Pd.
CGP SMP Negeri 5 Kempas Kab.Indragiri Hilir Riau

Fasilitator : Duwi Lestari, S.Si.,M.Pd.
Pendamping : Marliah, S.S.,M.Pd.

A. Latar Belakang

          Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan murid menjadi warga negara yang memiliki komitmen yang kuat dan konsisten untuk memajukan negara kesatuan Republik Indonesia. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang negara kesatuan Republik Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Konstitusi negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus.

 Di era globalisasi ini dihadapkan pada tantangan intelektual, dimana masyarakat Indonesia dihadapkan pada tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Globalisasi dan kemajuan teknologi telah membuat hilangnya batas informasi, semua budaya asing sangat mudah masuk ke Indonesia dan mempengaruhi gaya hidup para generasi penerus bangsa. Kehidupan bangsa perlu menerapkan pendidikan yang berkarakter bangsa yang berlandaskan pancasila sehingga melahirkan generasi yang pancasilais. Globalisasi telah melakukan pergeseran tujuan pendidikan nasional yang tidak lagi hanya untuk mencerdasarkan kehidupan bangsa, tetapi lebih berfokus untuk menghasilakn lulusan yang menguasai scentia. Penguasaan scientia dinilai mengarahkan murid kepada hasil yang bersifat pragmatis dan materialis, karena kurang membekali murid dengan semangat kebangsaan, semangat keadilan sosial, serta sifat-sifat kemanusiaan dan moral luhur sebagai warga negara (Saksono, 2010:76). 

 Menangkal model pendidikan sejenis ini maka perlu konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ditawarkan sebagai solusi terhadap distorsi-distorsi pelaksanaan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Ki Hadjar Dewantara mengatakan hendaknya usaha kemajuan ditempuh melalui petunjuk “TRIKON” yaitu Kontinyu dengan alam masyarakat Indonesia sendiri, konvergen dengan alam luar, dan akhirnya bersatu dengan alam universal, dalam persatuan yang konsentris yaitu bersatu namun tetap mempunyai kepribadian sendiri (Dewantara, 1994:371). Pendidikan yang memanusiakan manusia Indonesia harus selaras dan merujuk pada pancasila. Tujuan Nasional Pendidikan Indonesia menginginkan pendidikan yang menghasilkan manusia yang seutuhnya berjiwa pancasila. Sistem pendidikan di Indonesia harus berupaya melahirkan manusia-manusia berkarakter pancasilais, yakni manusia yang mendasarkan seluruh perilaku hidupnya pada nilai-nilai pancasila.

 Pendidikan karakter bangsa bukan untuk diajarkan melalui mata pelajaran tersendiri yang berdiri sendiri, tetapi pendidikan karakter bangsa tersebut diberikan oleh semua guru mata pelajaran yang diintegrasikan dalam penyampaian pembelajaran oleh semua guru mata pelajaran. Penerapan pendidikan karakter biasa diwujudkan melalui program pengembangan diri atau kegiatan ekstra, misalnya melalui pembiasaan-pembiaasan dalam kehidupan sehari-hari, serta keteladanan dari guru dan tenaga kependidikan di sekolah.  Pembiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaaan-kebiasaan yang telah ada. Pembiasaan selain menggunakan perintah, suri teladan, dan pengalaman khusus. Tujuannya agar murid memperoleh sika-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual). Selain itu juga Pembiasaan melakukan hal yang positif pada anak sebagai generasi penerus bangsa dapat membantu supaya anak menjadi insan yang sopan dan santun baik dalam lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat. Pendekatan pembiasaan sesungguhnya sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri anak, baik pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain itu pendekatan pembiasaan juga dinilai sangat efisien dalam mengubah kebiasaan negatif menjadi positif.

B. Deskripsi Aksi Nyata
        Aksi nyata akan dilaksanakan beberapa langkah diantaranya sebagai berikut :
1.     Perencanaan
        a.  Menyusun rencana program pembiasaan membaca Al-Quran
        b.  Menyusun jadwal untuk pelaksanaan pembiasaan membaca Al-Quran
2.     Pelaksanaan
        a.  Mendiskusikan kesepakatan pelaksanaan pembiasaan kepada seluruh warga sekolah.
        b.  Melaksanakan proses pembiasaan membaca Al-Quran pada setiap hari.
        c.  Mengirimkan hasil pembiasaan membaca Al-Quran melalui rekaman suara di Group              WA Pembiasaan sekolah.
3.     Refleksi
        a.  Mengevaluasi hasil pembiasaan membaca Al-Quran pada setiap setiap bulan.
        b.  Melakukan perbaikan untuk ke selanjutnya.
Linimasi tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

No.

Tindakan

Pelaksanaan

Ket.

Minggu 1

(2-7 des)

Minggu 2

(9-14 des)

Minggu 3

(16-21 des)

Minggu 4

(23-28 des)

1.

Konsultasi dan koordinasi dengan Kepala Sekolah dan majelis guru Program Aksi Nyata 1.

 

 

 

 

 

2.

Mensosialisasikan program Aksi Nyata 1 (Pembiasaan membaca Al-Quran) dengan murid dan orang tua /wali murid

 

 

 

 

 

3.

Proses pelaksanaan Aksi Nyata 1 yaitu pembiasaan membaca Al-Quran sebelum pembelajaran dimulai.

 

 

 

 

 

4.

Konsolidasi dan evaluasi dengan majelis guru tentang pelaksanaan Aksi Nyata 1.

 

 

 

 

 

5.

Persiapan laporan aksi nyata 1

 

 

 

 

 


C. Hasil dari Aksi Nyata yang Dilakukan
        Pembiasaan akan membentuk beberapa karakter diantaranya adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, dan peduli. Dasar pembentukan karakter itu adalah nilai baik atau buruk. Karakter manusia merupakan hasil tarik menarik antara nilai baik dalam bentuk energi positif dan nilai buruk dalam bentuk energi negatif. Energi positif itu berupa nilai-nilai etis religius yang bersumber dari keyakinan kepada Tuhan, sedangkan energi negatif itu berupa nilai-nilai yang amoral yang bersumber dari setan. Pembiasaan membaca Al-Quran dilaksanakan setiap hari sebelum pembelajaran di kelas. Karena kondisi pandemi maka pembacaan Al-Quran dilakukan dengan cara merekam kegiatan tersebut kemudian di kirim melalui WA Group Pembiasaan sekolah. Pembiasaan Al-Quran sudah terjadwal setiap harinya dan ditentukan ayatnya agar pelaksanaannya terarah dalam proses pelaksanaan pembiasaan membaca Al-Quran. Kegiatan pembiasaan membaca Al-Quran ini juga menjadi salah satu progam untuk memperkuat jiwa rohani murid untuk lebih dalam mengenai agama. Hasil dari kegiatan murid yang dilakukan dibuat jurnal kegiatan pembiasaan dalam sebuah kertas dengan menuliskan nama surat dan ayatnya setiap hari yang ditandatangani oleh orang tua dan guru pembimbing. Hal yang diharapkan adalah murid akan terbiasa dengan membaca Al-Quran setiap hari dan fasih dalam membacanya. Setelah terbiasan dengan membaca Al-Quran maka bisa dilanjutkan dengan menghapal dan memaknai setiap ayat yang dibacanya.

D. Pembelajaran yang Didapat dari Pelaksanaan        

Al-Quran telah melakukan proses penting dalam pendidikan manusia sejak diturunkannya wahyu pertama ayat dalam surat Al-Alaq yang mengajak seluruh umat manusia untuk meraih ilmu pengetahuan melalui pendidikan membaca. Pakar pendidikan mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter sejak dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Tujuan di adakannya pembiasaan ini untuk meningkatan kualitas murid dalam membaca Al-Quran serta dengan di adakannya program ini semoga bisa membentuk karakter murid yang bukan hanya unggul dalam segi kuantitas namun unggul juga dalam segi kualitas. Sebagai seorang muslim yakin bahwa Allah SWT pasti akan melipat gandakan pahala bagi orang-orang yang membaca Al-Quran dan selain itu juga diperintahkan untuk memperhatikan, mengamalkan, mematuhi adab serta mencurahkan segenap tenaga untuk memuliakan isi kandungannya. 

Pembiasaan membaca Al-Quran di sekolah dinilai efektif sebagai langkah pertama untuk berinteraksi dengan Al-Quran sebelum akhirnya memahami maknanya. Oleh karena itu sekolah membuat program pembiasaan dengan menerapkan membaca Al-Quran di pagi hari sebelum jam pembelajaran. Menurut Mulyasa (2016:169) menjelaskan beberapa indikator pembiasaan adalah :

a.       Rutin, adalah pembiasaan yang dilakukan secara terjadwal.

b.      Spontan, adalah pembiasaan tidak terjadwal dalam kejadian khusus

c.       Keteladanan, adalah pembiasaan dalam bentuk perilaku sehari-hari.

Dengan adanya pembiasaan, murid dapat melaksanakan berbagai nilai-nilai karakter secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari.  Manfaat yang diharapkan  dari adanya pembiasaan murid khususnya membaca Al-Quran adalah dimana siswa ketika terjun langsung di masyarakat selalu diunggulkan dan diharapkan oleh masyarakat. Seperti, menjadi imam di masjid dan menjadi qori kegiatan keagamaan di daerah masing-masing. Contoh perilaku tersebut adalah efek dari sekolah mengadakan sebuah pembiasaan secara rutin yang nantinya secara perlahan akan menjadi rutinitas murid.

E. Rencana Perbaikan untuk Pelaksanaan di Masa Mendatang     

Demi tercapainya tujuan dari implementasi membaca alquran, maka program pembiasaan ini memerlukan struktur kepanitian. Kepala sekolah sebagai Pembina yang bertugas memberikan dukungan dan dorongan kepada program pembiasaan agar murid dapat melakukan program pembiasaan.. Guru agama bertugas sebagai koordinator, mengatur semua proses pelaksanaan sehingga program ini dapat berjalan dengan baik. Guru agama membuat jadwal pelaksanaan program, mulai dari waktu pelaksanaan hingga evaluasi pelaksanaan program membaca al-Quran. Kondisi pandemi sangat mempengaruhi laporan pembiasaan kegiatan ini dengan berkaitan dengan jaringan HP murid pada saat mengirim rekamannya sehingga rekamannya dapat terkirim setelah mereka memiliki jaringan yang baik pada daerahnya tersebut. Mengatasi masalah itu maka pengiriman rekaman boleh dilakukan setelah pembelajaran atau pada saat ada jariangan pada HP nya tersebut. Setelah murid telah melakukan rutinitas membaca Al-Quran maka kegiatan tersebut dapat kita lanjutkan dengan menghapal dimulai dari juz amma untuk setiap murid.

F. Dokumentasi

   Gambar 1.   Sosialisasi Aksi Nyata 1 (Pembiasaan Membaca Al-Quran) 
                                                kepada Orang Tua/Wali Murid
Gambar 2. Koordinasi dengan Kepala Sekolah dan Pendamping 

Gambar 3. Pelaksanaan Pembiasaan Membaca Al-Quran
Gambar 4. Pembiasaan di Whatsapp Group





Testimoni Guru dan Murid


Testimoni dari Murid 


Testimoni dari Guru



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar